Menuju Negara Indonesia Yang Bersyariat Islam

Ustad Abu Bakar Ba'asyir

Demokrasi hakekatnya adalah sekularisme dengan segala pokok tujuan dan petunjuknya , Sedang didalam Islam, segala hal harus diarahkan pada peraturan-peraturan syar’i. Barangsiapa yang memisah-misahkan perkara kehidupan, sebagiannya diserahkan kepada Alloh dan sebagian yang lain dipasrahkan kepada manusia, maka ia telah melakukan perbuatan kufur.

Syaikh Ayman Az-Zawahiri

Orang nomor dua yang selama ini sangat dekat dengan syeikh Usamah bin Ladin rahimahullah, Dr. Ayman Az-Zawahiri hafidzahullah, telah mengambil komando al Qaeda, dirinya kini menjadi amir organisasi jihad global tersebut, lapor sebuah situs Islam pada Kamis (16/6/2011).

Sayyid Qutb

“Telunjuk yang bersyahadah setiap kali dalam shalat menegaskan bahwa Tiada Ilah yang disembah dengan sesungguhnya melainkan Allah dan Muhamad adalah Rasulullah, dan aku takkan menulis satu perkataan yang hina. Jika aku dipenjara karena kebenaran aku ridha. Jika aku dipenjara secara batil, aku tidak akan menuntut rahmat daripada kebatilan.”

Al Tauhid

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Senin, 03 September 2012

Hukum Menjadikan Undang-Undang Buatan Manusia Sebagai Rujukan



Hukum Menjadikan Undang-Undang Buatan Manusia Yang Bertentangan Dengan Islam Sebagai Rujukan[1]


Berhukum dengan undang-undang yang bertentangan dengan Islam adalah kufur secara mutlak tanpa melihat isi hatinya bila syari’at Islam digantikan, namun bila syari’at Islam masih dijadikan rujukan hukum akan tetapi dalam masalah tertentu si hakim menyeleweng dan menggunakan hukum non Islam, maka ini bisa kafir, bisa fasiq, dan bisa dhalim tergantung i’tiqad, berikut rinciannya:
Allah shalallaahu ‘alaihi wa sallam berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (٤٤)
“Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir” (Al Maidah: 44)

Dan sabda Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam:
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوْا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْ سَهُمْ بَيْنَهُمْ   ( حَدِيث حسن رواه ابن ماجه )
“Dan selagi pemipin mereka tidak memutuskan perkara dengan kitab suci Al Qur’an, dan mereka memilih-milih hukum yang diturunkan Allah, niscaya Allah akan menjadikan kehancuran mereka pada diri mereka” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majaah)
Ketahuilah, sesungguhnya berhukum dengan hukum selain Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya shalallaahu ‘alaihi wa sallam itu ada banyak macamnya, camkanlah apa yang telah ditulis oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asy Syaikh rahimahullah dalam kitabnya Tahkimul Qawanin, beliau berkata: “Sesungguhnya hakim yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah itu adalah kafir, baik kekufuran i’tiqad yang mengeluarkan dari agama (Islam), ataupun kekufuran amal yang tidak mengeluarkan dari agama.
Adapun yang pertama yaitu kekufuran i’tiqad, maka ini banyak macamnya:
  • Si hakim yang berhukum dengan hukum selain apa yang diturunkan Allah itu mengingkari keberhakkan/kebenaran hukum Allah dan Rasul-nya.
  • Si hakim yang berhukum dengan hukum selain apa yang diturunkan Allah itu tidak mengingkari bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya itu adalah haq, namun dia meyakini bahwa hukum selain Rasul-Nya shalallaahu ‘alaihi wa sallam lebih baik, lebih sempurna, dan lebih mencakup dari hukum beliau.
  • Dia tidak meyakini bahwa hukum itu lebih baik dari hukum Allah dan Rasul-Nya, namun dia meyakini bahwa hukum itu sama dengan dengan hukum-Nya.
  • Dia tidak meyakini keberadaan hukum si hakim yang menghukumi dengan hukum selain apa yang diturunkan Allah itu sama dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, apalagi kalau sampai ia meyakini bahwa hukum itu lebih baik dari hukumnya, namun ia meyakini meyakini bolehnya berhukum dengan hukum yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya.
  • Dan yang paling besar dan paling dahsyat serta paling nampak pembangan-pembangkangannya terhadap syari’at, paling nampak penolakannya terhadap hukum-hukum syari’at, dan paling nampak penentangannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan paling nyata penyerupaannya terhadap mahkamah-mahkamah syari’at, dari sisi persiapan, pengayaan, irsyad, ta’shil, tafri’, tasykil, tanwi’, penetapan hukum, keharusan (iltizam), dan referensi-referensi serta sandaran. Sebagaimana mahkamah-mahkamah syar’iyyah memiliki referensi-referensi yang menjadi sandaran, yaitu rujukan seuanya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shalallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mahkamah-mahkamah ini juga memiliki referensi/rujukan, yaitu undang-undang (qanun) yang diambil dari berbagai macam syari’at dan undang-undang yang banyak jumlahnya, seperti undang-undang Prancis, undang-undang Amerika, undang-undang Inggris, dan undang-undang lainnya, serta dari aliran-aliran berbagai ahlul bid’ah yang menisbatkan diri kepada syari’at ini dan yang lainnya.
  • Apa yang dijadikan hukum oleh para pemimpin suku dan kabilah di kawasan pedalaman dan yang lainnya berupa dongeng-dongeng leluhur dan nenek moyang mereka yang mereka namakan hukum adat (atau nama apa saja) yang diwariskan secara turun-temurun mereka memutuskan hukum dengannya, dan mendorong orang untuk berhukum kepadanya disaat ada persengketaan, karena merasa betah dengan hukum-hukum jahiliyyah, dan berpaling serta enggan terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya, falaa haula walaa quwwata illaa billaah.
Adapun bagian kedua, dari dua macam kekufuran hakim yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, yaitu yang tidak mengeluarkan dari agama adalah: Telah lalu bahwa penafsiran Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma terhadap firman Allah ‘Azza Wa Jalla “Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir” mencakup bagian itu, yaitu perkataan beliau radliyallahu ‘anhuma: “kufrun duna kufrin” dan perkataannya, kufur yang dimaksud itu bukan yang kalian yakini”. Yaitu syahwat dan hawa nafsunya mendorong dia untuk menghukumi dalam satu permasalahan bukan dengan hukum yang diturunkan Allah, dengan disertai keyakinannya bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya itu adalah yang haq, dan pengakuannya atas dirinya dengan kesalahan serta menyalahi petunjuk.
Ini meskipun tidak mengeluarkan dia dari agama Islam, namun sesungguhnya itu merupakan maksiat yang paling dahsyat dan lebih besar dari dosa-dosa besar, seperti zina, minum khamr, mencuri, sumpah palsu, dan yang lainnya, karena maksiat yang Allah namai dengan kekufuran lebih besar dari maksiat yang tidak dinamai dengan kekufuran.[2]
Anda bisa melihat beliau rahimahullah menjelaskan dalam empat macam pertama status yang berhubungan dengan zuhud (pengingkaran) si hakim yang berhukum dengan bukan hukum Allah atas kebenaran (al haqqiyyah) hukum Allah dan Rasul-Nya, pengunggulan bukan hukum Allah atas hukum Allah, pensejajaran hukum-Nya dengan yang lainnya, dan pembolehan berhukum dengan selain hukum Allah, namun tatkala beliau menuturkan nomor ke lima, beliau tidak menyebutkan quyud (batasan-batasan) tadi, karena yang ke lima itu sudah berupa undang-undang yang disusun sedemikian rupa, berbeda dengan empat macam sebelumnya yang dimana si hakim itu hanya berhukum kepada selain hukum Allah dalam permasalahan tertentu saja sedangkan hukum Allah tetap sebagai rujukan dan hukum yang tetap berlaku, maka penghukuman sebagai orang kafir yang murtad dari Islam itu harus diperhatikan batasan-batasan empat di atas, namun bila dalam masalah ini tidak terdapat salah satu batasan yang empat itu, maka statusnya tergolong pada kufrun duna kufrin. Adapun bila menjadikan hukum selain apa yang diturunkan Allah itu sebagai qawanin (undang-undang), maka kekafiran/kemurtaddannya itu tidak perlu adanya keyakinan-keyakinan empat di atas.
Syaikh Muhammad berkata lagi: Dan adapun yang dikatakan padanya kufrun duna kufrin, adalah bila dia berhukum kepada selain Allah dengan masih ada keyakinan bahwa dia itu berbuat maksiat dan bahwasanya hukum Allah itulah satu-satunya yang haq, terus perbuatan (berhukum) ini hanyalah yang terjadi darinya sekali-dua kali saja, adapaun orang-orang yang membuat undang-undang dengan rapi dan tersusun dengan sedemikian rupa, maka dia itu kafir (murtad) meskipun mereka mengatakan “kami ini salah dan hukum Allah itu yang paling adil”.[3]
Beliau berkata lagi: Seandainya orang yang menjadikan undang-undang sebagai hukum berkata: “saya meyakini bahwa undang-undang ini bathil” maka (ucapan ini) tidak ada pengaruhnya, bahkan perbuatannya itu merupakan penyingkiran akan syari’at, sama halnya seandainya seseorang berkata: “saya menyembah berhala dan dia meyakini bahwa itu bathil”.[4]
Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al Utsaimin berkata: “Status berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah terbagi dua macam:
I. Hukum Allah dibatalkan/digeser, agar tempatnya diganti dengan hukum lain yang thaghuti, yaitu berhukum dengan syari’at di antara manusia di hapus/diralat dan digantikan dengan hukum lain buatan manusia, seperti orang-orang yang menyingkirkan hukum-hukum syari’at dalam muamalah antara manusia dan manggantikannya dengan undang-undang buatan manusia, maka hal ini tidak diragukan lagi adalah istibdal (penukaran/penggantian) syari’at Allah ‘Azza Wa Jalla dengan yang lainnya, dan ini merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari agama (Islam), karena orang ini memposisikan dirinya pada kedudukan Sang Pencipta, dia mensyari’atkan hukum yang tidak diizinkan Allah ‘Azza Wa Jalla di antara hamba-hamba Allah, bahkan hukum yang bertentangan dengan hukum Allah ‘Azza Wa Jalla, serta dia menjadikannya sebagai hukum pemutus urusan di antara manusia, sedangkan Allah ‘Azza Wa Jalla telah menamakannya sebagai sekutu di dalam firman-Nya:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?(Asy syuraa: 21)
II. Hukum-hukum Allah ‘Azza Wa Jalla tetap dijalankan seperti biasanya, dan tetap sebagai pemutus dan sebagai rujukan/acuan, namun ada satu hakim dari hakim-hakim yang ada kemudian dia menetapkan hukum dengan sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan hukum-hukum itu, yaitu dengan dia berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, maka baginya ada tiga keadaan:
  1. Menghukumi dengan apa yang menyelisihi syari’at Allah dengan berkeyakinan bahwa hukum (yang ia tetapkan) itu lebih utama dari hukum Allah dan lebih bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, atau meyakini bahwa hukum itu sejajar dengan hukum Allah ‘Azza Wa Jalla, atau meyakini bahwa dia boleh berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka ini adalah kekufuran yang dengannya si hakim keluar dari agama (Islam) karena dia tidak ridla dengan hukum Allah ‘Azza Wa Jalla, dan dia tidak menjadikan Allah sebagai pemutus hukum di antara hamba-hamba-Nya
  2. Berhukum dengan apa yang tidak diturunkan Allah dengan berkeyakinan bahwa hukum Allah adalah yang paling utama dan paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, namun dia keluar dari ketentuan hukum itu, sedang dia merasa bahwa dia itu beraksiat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, dia hanya menginginkan berbuat aniaya dan dhalim kepada si terhukum, karena sebab ada permusuhan di antara dia dengannya, maka dia berhukum dengan selain apa yang telah diturunkan Allah bukan karena benci terhadap hukum Allah dan tidak pula istibdal tidak juga meyakini bahwa hukum yang dia tetapkan itu lebih utama dari hukum Allah atau sejajar dengannya atau (tidak pula) meyakini bahwa boleh memutuskan dengannya namun karena dia ingin merugikan si terhukum maka ia menetapkan dengan selain hukum yang diturunkan Allah. Pada keadaan seperti ini kita tidak mengatakan bahwa si hakim itu kafir, namun kita katakan sesungguhnya dia itu dhalim, aniaya dan lalim.
  3. Berhukum dengan apa yang tidak diturunkan Allah sedang dia meyakini bahwa hukum adalah yang paling utama dan paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya dan meyakini pula bahwa dia dengan penetapan hukumnya ini dia bermaksiat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, namun dia memutuskan karena mengikuti hawa nafsunya, untuk kemashlahatan bagi dia atau si pengadu, maka perbuatan ini adalah kefasikan dan keluar dari ketaatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dan terhadap tiga status inilah firman Allah dalam tiga ayat itu ditafsirkan. Firman-nya: “Barangsiapa  tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir” buat status yang pertama. Firman-Nya: “Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim” buat status yang kedua. Firman-nya: “Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang fasik” buat status yang ketiga.[5]
Perhatikanlah! tentu anda bisa melihat bahwa bagian pertama yang Syaikh Al Utsaimin sebutkan sama dengan bagian kelima dan bahkan yang keenam juga yang dituturkan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim. Adapun bagian yang kedua poin pertama yang  Syaikh Al utsaimin sebutkan adalah sama dengan empat poin pertama yang Syaikh Muhammad sebutkan, dan adapun bagian kedua poin kedua dan ketiga dari yang Syaikh Al Utsaimin sebutkan adalah sama dengan bagian kedua dari macam kufur yang Syaikh Muhammad sebutkan di akhir, yaitu kufrun duna kufrin.
Syaikh Muhammad Hamid Al Faqiy rahimahullah berkata: Dan seperti ini dan lebih buruk darinya (dari hukum yang dibuat oleh Jenggis Khan yang sudah divonis kafir orang yang melakukannya, pent[6]): orang yang menjadikan perkataan orang-orang barat sebagai undang-undang yang dijadikan rujukan hukum dalam masalah darah (pembunuhan dan sejenisnya, pent) kemaluan (perzinahan, perkosaan dan sejenisnya, pent) dan harta, dan dia mendahulukannya terhadap apa yang sudah diketahui dan jelas baginya dari apa yang terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallaahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu tanpa diragukan lagi adalah kafir murtad bila terus bersikeras di atasnya dan tidak kembali mau berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan tidak bermanfaat baginya nama apapun yang dengannya dia menamai dirinya dan (tidak bermanfaat juga baginya) amalan apa saja dari amalan-amalan dzahir, baik shalat, saum, haji dan yang lainnya.[7]
Maka dalam masalah ini hendaklah kita hati-hati, janganlah terseret pemikiran yang bertolak belakang, antara Khawarij yang merupakan anjing-anjing neraka Jahannam dan pemikiran Murji’ah dahulu ataupun Neo Murji’ah yang berpakaian lebih menarik pada masa kini yang berlabelkan nama yang indah dan berbaju dengan baju yang menawan yang dhahirnya mencela pemikiran Murji’ah namun bathinnya sama dengan mereka dan berbeda dengan Ahlussunnah. Semua mengaku Ahlussunnah, siapakah yang sebenarnya…?? semua mengklaim pengikut salaf, namun siapa yang sebenarnya…?? Nas’alullahasaalama.
Diambil dari artikel:
Ar Rasaail Al Mufidah (Kumpulan Risalah Berfaidah) - Ust. Aman Abdurrahman
Download  -  Pdf Docs
Baca juga artikel lainnya:

[1]
Kumpulan risalah/tulisan ini adalah di antara sekian risalah/tulisan yang saya susun saat saya dahulu masih berada di barisan salafi maz’um, tapi karena isinya bermanfaat maka saya izinkan untuk disebarkan sekarang, walaupun ada nukilan dari sebagian syaikh yang saya anggap menyimpang dalam permasalahan sikap terhadap pemerintah murtad dan permasalahan manhaj lainnya, namun para ulama rujukan Tauhid dan Jihad tidak mengkafirkan mereka itu, dan mereka juga kadang mengambil ucapan para syaikh itu dalam permasalahan fiqh, dan di sinipun saya tetap mencantumkan fatwa-fatwa mereka. Saya katakan hal ini agar para ikhwan tauhid tidak bingung.
[2]  Tahkimul Qawanin: 13-21
[3] Al Fatawa: 12/280, 6/189, dinukil dari Raf’ulla’imah
[4] Al fatawa: 6/189, dinukil dari Raf’ulla’imah
[5] Fikhul Ibadat: 60-61 dan Al Qaul Al Mufid: 2/159-162
[6] Lihat Fathul Madjid: 373
[7] Lihat Fathul Madjid: 373, catatan kakinya


sumber : http://millahibrahim.wordpress.com/2012/09/03/hukum-menjadikan-undang-undang-buatan-manusia-sebagai-rujukan/

Selasa, 07 Agustus 2012

Dalil-Dalil Yang Menjelaskan Bahwa Kejahilan Dan Taqlid Itu Bukan Udzur Dalam Syirik Akbar


Syaikh Abu Az zubair Asy Syinqithiy berkata dalam kitabnya Al idlah Wat Tabyin fi Ana Fa’ilasy Syirki Jahlan Laisa Minal Muslimin dalam pasal ketiga hal 40-46:
Dalil-Dalil Yang Menjelaskan Bahwa Kebodohan Dan Taqlid Itu Bukan Udzur Yang Dianggap Dalam Peribadatan Kepada Selain Allah:
1. Allah Ta’ala berfirman
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah: 6)
Sisi indikasi ayat ini adalah sangat jelas, yaitu bahwa Allah ta’ala menamakan mereka sebagai orang-orang musyrik sebelum mereka mendengar firman Allah, dan itu dalam firman-Nya “Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah” kemudian Allah menyifati mereka, “karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui.” sedangkan hal itu adalah sebelum mereka mendengar firman Allah.
Abu Ishaq Ahmad Ibnu Ibrahim Al Ba’liy An Naisaburiy berkata:
( (حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ ) فتقيم عليه الحجة وتبين له دين الله عز وجل فإن أسلم فقد نال عز الإسلام وخير الدنيا والآخرة وصار رجلا من المسلمين، وإن أبي أن يسلم …. { ذلك بأنهم قوم لا يعلمون } دين الله وتوحيده ) [ الكشف والبيان عن تفسير القرآن (5/13) ].
(“agar dia dapat mendengar firman Allah” di mana engkau tegakkan hujjah terhadapnya dan engkau jelaskan kepadanya dienullah ‘azza wa jalla kemudian bila dia masuk islam maka ia telah meraih keagungan islam dan kebaikan dunia dan akhirat, serta ia menjadi bagian dari kaum muslimin, namun bila ia enggan masuk Islam…..” (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui” dienullah dan pentauhidan-Nya). <Al Kasyfu Wal Bayan ‘An Tafsiril Qur’an 5/13>
An Nasafiy berkata:
( { حتى يسمع كلام الله } ويتدبره ويتطلع على حقيقة الأمر على أن المستأمن لا يؤذي وليس له الإقامة في دارنا ويمكن من العودة {ذلك } أي أمر بالإجارة في قوله : ( فأجره ) { بأنهم قوم لا يعلمون } بسبب أنهم جهلة لا يعلمون الإسلام وما حقيقته ما تدعوا إليه ) اهـ [ ( ج 2 / 103 ) ].
(“agar dia dapat mendengar firman Allah” dan mentadabburinya serta mengenal hakikat urusan bahwa orang kafir musta’man itu tidak disakiti dan ia tidak memiliki hak tinggal di negeri kita serta ia bisa kembali “(Demikian) itu” yaitu perintah memberikan perlindungan dalam firman-Nya (“maka lindungilah”) “karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui” dengan sebab mereka itu adalah orang-orang bodoh yang tidak mengetahui ia Islam dan apa hakikatnya serta apa yang diserukannya). Selesai <Juz 2/103>
Al Imam Al Baghawi berkata:
( { حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ } فيما له وعليه من الثواب والعقاب … { ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ } أي: لا يعلمون دين الله تعالى وتوحيده ) [ تفسير البغوي ج 4 / 14 ]
(“Agar dia dapat mendengar firman Allah” perihal apa yang menjadi hak dia dan apa yang ditetapkan terhadap dia berupa pahala dan siksa….. “(Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui” yaitu tidak mengetahui dienullah ta’ala dan pentauhidan-Nya) <Tafsir Al Baghawi juz 4/14>
Asy Syaikh Al Muhaddits Abdul ‘Aziz Ath Thuraiqiy hafidhahullah berkata:
( ومعلوم أن الناس في هذه الأرض إما مسلمون وإما كفار لا يوجد غيرهم، ولكن قد يكون هناك من الكفار مَنْهُم كفارٌ اسما لكنهم لا يكفرون حكماً، فمن تلبَّس بشيء من أفعال الكفر وإن كان معذورا في باطنه، إلا أنه يكون قد شابه الكفار في أفعالهم فيكون قد كفر، وإن لم تبلغه البينة والحجة، ولذلك يقول الله سبحانه وتعالى في كتابه العظيم : ( وإن أحد من المشركين استجارك فأجره حتى يسمع كلام الله )، فسماه الله جل وعلا مشركا قبل أن يسمع كلام الله، وذلك لمشابهته في الظاهر لأعمال الكفار، إلا أنه في الباطن أمره إلى الله جل وعلا، وهذا يمسى عند العلماء في باب : ( باب الأسماء والأحكام )، فهو قد شابه الكفار في الظاهر فاستحق الاسم في الظاهر أيضا، ومن جهة الأحكام فأمره إلى الله سبحانه وتعالى، والأحكام تتعلق بالدنيا والآخرة، ومعلوم أن الأسماء لها تعلق كذلك بالأمرين في الدنيا والآخرة، ولذلك من تلبَّس بشيء من أعمال الكفر في الظاهر فإنه يكفر اسما لكنه لا يكفر حكما حتى تقام عليه البينة، ولذلك حكم الله جل وعلا بكفر وإشراك من تشبه بالكفار فعلا وإن كان معذور، ولذلك قال الله جل وعلا : ( وإن أحد من المشركين استجارك فأجره حتى يسمع كلام الله ) فسماه مشركا قبل أن يسمع كلام الله، وكذلك في الآيات في أوائل سورة البينة، فالله جل وعلا قد حكم بكفرهم وإشراكهم ( من أهل الكتاب والمشركين حتى تأتيهم البينة ) فهم لم تأتيهم البينة بعد ) [ شرح كتاب مفيد المستفيد ص : 2 ].
(Dan sudah maklum bahwa manusia di muka bumi ini adalah hanya ada orang-orang muslim dan orang-orang kafir, tidak ada selain mereka, akan tetap bisa saja di sana di antara orang-orang kafir itu ada orang-orang kafir secara nama saja namun secara hukum mereka itu tidak kafir. Barangsiapa melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan walaupun di bathinnya dia itu diudzur akan tetapi dia itu telah menyerupai orang-orang kafir dalam perbuatan-perbuatan mereka maka dia itu telah kafir, walaupun penjelasan dan hujjah belum sampai kepadanya. Oleh sebab itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata di dalam Kitab-Nya Yang Agung,
 “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah: 6)
Di mana Allah Jalla Wa ‘alaa menamakannya musyrik sebelum ia mendengar firman Allah, yang demikian itu dikarenakan penyerupaan dia secara dhahir terhadap amalan-amalan orang-orang kafir, akan tetapi secara bathin urusan dia itu diserahkan kepada Allah Jalla Wa ‘alaa. Dan hal ini dinamakan oleh para ulama pada bab (Bab Al Asma Wal Ahkam). Di mana dia itu telah menyerupai orang-orang kafir pada hal dhahir sehingga dia berhak menyandang nama itu secara dhahir juga, dan dari sisi Ahkam maka urusannya diserahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan ahkam itu berkaitan dengan dunia dan akhirat, dan sudah maklum bahwa Asma (nama-nama) itu memiliki kaitan juga dengan dua hal itu di dunia dan di akhirat, oleh sebab itu barangsiapa melakukan sesuatu dari amalan kekafiran secara dhahir maka sesungguhnya dia itu kafir secara nama akan tetapi dia tidak kafir secara hukum sampai ditegakkan penjelasan kepadanya, oleh sebab itu Allah Jalla Wa ‘alaa memvonis kafir dan musyrik orang yang menyerupai orang-orang kafir secara perbuatan walaupun dia itu diudzur, oleh sebab itu Allah Jalla Wa ‘alaa berfirman:
 “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah: 6)
Dimana Allah menamakannya sebagai orang musyrik sebelum ia mendengar firman Allah, dan begitu juga ayat-ayat di awal-awal surat Al Bayyinah, di mana Allah Jalla Wa ‘alaa telah memvonis mereka sebagai orang-orang kafir dan musyrik “dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik sampai datang penjelasan kepada mereka” padahal mereka itu belum sampai penjelasan itu kepada mereka). <Syarh Kitab Mufidul Mustafid hal: 2>
2. Allah ta’ala berfirman:
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ هَذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُمْ مُعْرِضُونَ
“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: “Unjukkanlah hujahmu! (Al Qur’an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan orang-orang yang sebelumku”. Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.” (QS. Al Anbiya: 24)
Allah ta’ala telah menyebutkan di dalam ayat ini bahwa sebab keberpalingan orang-orang kafir dari al haq adalah kebodohan mereka dan ketidaktahuan mereka terhadapnya.
Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah berkata:
(يقول: بل أكثر هؤلاء المشركين لا يعلمون الصواب فيما يقولون ولا فيما يأتون ويذرون، فهم معرضون عن الحق جهلا منهم به، وقلَّة فهم ) .اهـ [ تفسير ابن جرير الطبري ج 16 / 249 ]
(Allah berkata: Bahkan mayoritas orang-orang musyrik itu tidak mengetahui kebenaran dalam apa yang mereka katakan dan dalam apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka tinggalkan. Mereka itu berpaling dari kebenaran karena kejahilan dari mereka terhadapnya dan karena kekurang pahaman). <Tafsir ibni Jarir Ath Thabari Juz 16/249>
Abu Hayyan berkata dalam Al Bahrul Muhith:
( فلا يعلمون أي أصل شرهم وفسادهم هو الجهل وعدم التمييز بين الحق والباطل ومن ثم جاء الإعراض عنه.
(Mereka itu tidak mengetahui, yaitu dasar keburukan dan keburukan mereka itu adalah kebodohan dan ketidakbisa membedakan antara al haq dengan al bathil, dan dari sinilah datang keberpalingan darinya.
Az Zamakhsyariy berkata:
ويجوز أن يكون المنصوب أيضا على معني التوكيد لمضمون الجملة السابقة . كما تقول : هذا عبد الله الحق لا الباطل فأكد نسبة انتفاء العلم عنهم والظاهر أن الإعراض متسبب عن انتفاء العلم لما فقدوا التمييز بين الحق والباطل وأعرضوا عن الحق ) اهـ [ البحر المحيط ج 6 / 375 ]
Dan boleh saja keberadaan ia manshub itu juga atas makna taukid (penguat) bagi kandungan ungkapan yang lalu, sebagaimana engkau katakan Hadza Abdullah Al Haqqa Lal Bathil (ini adalah Abdullah secara sebenarnya bukan kebatilan, di mana Dia menguatkan penyadaran kebodohan kepada mereka, dan yang nampak bahwa keberpalingan itu disebabkan oleh ketidak adaannya ilmu tatkala mereka kehilangan pemilahan antara al haq dengan al bathil dan berpaling dari al haq). <Al Bahrul Muhith Juz 6/375>
Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir Ibnu Abdillah As Sa’diy:
(وقوله: { بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ } أي: وإنما أقاموا على ما هم عليه، تقليدا لأسلافهم يجادلون بغير علم ولا هدى، وليس عدم علمهم بالحق لخفائه وغموضه، وإنما ذلك، لإعراضهم عنه، وإلا فلو التفتوا إليه أدنى التفات، لتبين لهم الحق من الباطل تبينا واضحا جليا ولهذا قال: { فَهُمْ مُعْرِضُونَ }) [ تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان(1/521) ].
(Dan firman-Nya: “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq” yaitu: sebab mereka menetap di atas apa yang mereka anut itu adalah karena taklid kepada para pendahulu mereka seraya mereka mendebat tanpa dasar ilmu dan petunjuk, dan ketidaktahuan mereka terhadap al haq itu bukan karena ia itu samar dan kurang jelas, akan tetapi hal itu karena keberpalingan mereka darinya, karena seandainya mereka itu mau menengok kepadanya walau sedikit saja tentu jelas nyatalah al haq dari kebatilan di hadapan mereka, oleh sebab itu Dia berfirman “karena itulah mereka berpaling”). <Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan 1/521>.
3. Dari Adiy Ibnu Hatim berkata: Saya dulu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan di leher saya ada salib yang terbuat dari emas, maka beliau berkata: “Hai Adiy buanglah berhala ini darimu” dan saya mendengar beliau membaca pada surat Bara’ah
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31)
Beliau berkata: Sesungguhnya mereka itu tidak mengibadati mereka, akan tetapi mereka itu bila para ulama/pendeta itu menghalalkan sesuatu maka mereka menganggapnya halal dan bila mereka mengharamkan sesuatu maka mereka mengharamkannya). Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (3115) dan berkata: Ini adalah hadits gharib yang tidak kami kenal kecuali dari hadits Abdissalam Ibnu Harb dan Ghathif Ibnu A’yun di mana ia itu tidak dikenal dalam hadits, dan Ath Thabrani (13673) sedangkan ini adalah teksnya, dan Ibnu Taimiyyah telah menukil dari At Tirmidzi bahwa ia menshahihkannya (Al furqan Baina Auliyarrahman Wa auliyaisy syaithan juz 1/185).
Dan Al Hafidh telah menukil di dalam takhrij-nya terhadap hadits-hadits Al Kasysyaf bahwa ia menghasankannya (Ash Shahihah 3293)
Dan dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah (Minhaj As Sunnah Juz 1/21) dan Al Albaniy (As Silsilah Ash shahihah 3293).
Adiy itu tidak mengetahui bahwa apa yang ia lakukan berupa ketaatannya kepada para alim ulama dan para pendeta itu adalah ibadah, dan hal itu dalam ucapannya (kami tidak pernah mengibadati mereka) namun demikian Allah subhanahu tidak mengudzur mereka akan tetapi Dia menamakan mereka sebagai kaum musyrikin sebagaimana di dalam firman-Nya (Maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan).
Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Abu Bithin rahimahullah berkata dalam rangka mengomentari hadits ini:
(فذمهم الله سبحانه وسماهم مشركين مع كونهم لم يعلموا أن فعلهم معهم هذا عبادة لهم فلم يعذروا بالجهل) [ فتاوى الأئمة النجدية ج 3 / 185 ].
(Maka Allah subhanahu mencela mereka dan menamakan mereka sebagai kaum musyrikin padahal mereka itu tidak mengetahui bahwa tindakan mereka terhadap alim ulama dan para pendeta itu adalah ibadah terhadap mereka, namun mereka tidak diudzur dengan sebab kejahilan). <Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah juz 3/185>
Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy -fakkallahu asrah- berkata seraya menuturkan beberapa faidah dan dilalah yang dikandung kisah ini:
( أن الجهل في هذا الأمر الخطير لا يعذر صاحبه، لأنه أمر متعلق بأصل الدين، وهو توحيد الله بالعبادة أو توحيد الألوهية، الذي جاء الرسل جميعهم من أجل دعوة النّاس إليه وتحذيرهم من ضده، ألم تر أن جهل عدي بن حاتم الطائي رضي الله عنه وغيره من النصارى بأن الطاعة في التشريع شرك وعبادة لغير الله، لم يمنع من تكفيرهم وكونهم مشركين ) .
[ من رسالة له بعنوان : هذان خصمان اختصموا في ربهم ص : 4 ].
(Bahwa kejahilan di dalam urusan yang berbahaya ini adalah pelakunya tidak diudzur, karena ia adalah urusan yang berkaitan dengan ashluddien, yaitu pentauhidan Allah dengan ibadah atau tauhid uluhiyyah yang mana semua rasul datang dalam rangka mengajak manusia kepadanya dan menghati-hatikan mereka dari kebalikannya. Apa engkau tidak memperhatikan bahwa ketidaktahuan Adiy Ibnu Hatim Ath Thaiy radliyallahu ‘anhu dan yang lainnya dari kalangan Nashara bahwa ketaatan di dalam hukum buatan itu syirik dan peribadatan kepada selain Allah adalah tidak menghalangi dari mengafirkan mereka dan dari memvonis mereka sebagai orang-orang musyrik) <Dari Risalah beliau berjudul: Hadzani Khashmani Ikhtashamu Fi Rabbihim, hal 4>.
Sebagian para penulis telah mengkritik seraya menyatakan bahwa ayat-ayat ini adalah berkaitan dengan orang-orang kafir asli, sehingga tidak sah berhujjah dengannya dalam mengafirkan orang yang asalnya muslim.
Maka kami jawab hal ini dari beberapa sisi:
Sisi Pertama:
Bahwa yang menjadi patokan itu adalah keumuman lafadh bukan kekhususan sebab, sebagaimana hal ini sudah menjadi kaidah baku di kalangan para ulama.
Sisi Kedua:
Bila pengudzuran mereka terhadap kaum musyrikin yang mengibadati kuburan itu adalah karena mereka itu mengaku muslim, maka orang-orang itu seyogyanya menghukumi keislaman orang yang mati sebelum Rasulullah diutus dari kalangan orang-orang kafir Quraisy, karena mereka juga mengaku menganut  millah Ibrahim, dan Nashara juga Yahudi masing-masing dari mereka itu mengaku menganut agama samawi yang diturunkan Allah.
Fadlillah Asy Syaikh Abdul Aziz Ibnu Rasyid Ibnu Hamdan Ath Thuwalliy -fakkallahu asrah- berkata:
(Sesungguhnya di antara permasalahan yang banyak terjadi perselisihan dan kekeliruan di dalamnya adalah masalah pengudzuran dengan sebab kejahilan di dalam ashluddien, dan banyak kalangan yang mengudzur orang jahil yang melakukan syirik akbar itu menjadikan alasan pengudzuran itu adalah karena si pelaku syirik akbar tersebut mengaku muslim dan mengaku sebagai orang Islam.
Bila dia mengibadati selain Allah, memohon kepadanya dan menyembelih untuknya, dan ia hidup tumbuh di atas hal itu sejak dilahirkan sampai ia mati, dan ia mengatakan dengan lisannya bahwa saya muslim, maka dia itu dianggap sebagai orang muslim oleh orang itu. Dan bila mengibadati selain Allah, memohon kepadanya dan menyembelih untuknya serta mengatakan dengan lisannya bahwa saya di atas agama yang mana Allah telah memerintahkan saya dengannya, maka orang itu tidak mengudzurnya. Dan ini adalah tergolong kontradiksi tanpa diragukan.
Dan bila ditarakan kepadanya dalil penyamaan antara para penyembah kuburan dengan para penyembah berhala dan tidak diudzur seorangpun dari mereka dengan sebab kejahilan, maka dia menjadikan pengakuan keislaman sebagai pembeda, dan dengan sebab pengakuan keislaman ini maka dia memvonis kafir penyembah berhala dan menetapkan keislaman penyembah kuburan.
Pengakuan Islam ini bila dimaksudkan dengannya pengakuan Islam saja tanpa syariat-syariat (Allah) yang lainnya, maka ia adalah penetapan hukum yang tidak ada dalil terhadapnya. Dan bila dimaksudkan dengannya adalah pengakuan menganut agama Allah ‘Azza Wa Jalla, baik ia itu menganut agama Islam yang mana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Yahudi atau Nasrani atau agama lainnya yang mana para rasul diutus dengannya, maka pemegang ucapan ini harus menghukumi keislaman orang-orang bodoh dari kalangan Yahudi dan nasrani serta yang lainnya, karena mereka itu mengaku menganut agama Allah yang mana mereka diperintahkan Allah untuk mengikutinya dan mereka terjatuh dalam pembatal-pembatalnya karena kebodohan, dan barangsiapa mengudzur mereka itu maka ia telah kafir dan keluar dari agama ini, dan dia mendustakan dalil-dalil yang shahih lagi sharih.
Bahkan dia itu harus menghukumi keislaman musyrikin Quraisy sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka itu di atas dien Ibrahim sesuai klaim dan dugaan mereka, dan pada mereka itu ada sebagian syiar-syiar dan hukum-hukum dari dien Ibrahim, seperti haji, khitan dan pengagungan tempat-tempat dan waktu-waktu suci, dan mereka juga mengakui Allah sebagai Rabb yang tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam penciptaan, pemberian rizqi dan dalam menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka menyekutukan yang lain bersama Allah supaya hal itu mendekatkan mereka kepada Allah seraya meyakini bahwa Allah mengizinkan baginya untuk menjadi wakil dan perantara antara Dia dengan makhluk-Nya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka klaim, sedangkan ‘Ubadul Qubur (para penyembah kuburan) adalah seperti mereka di dalam semua ini, akan tetapi ‘Ubbadul Qubur mengaku menganut agama penutup para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan orang-orang jahiliyyah mengaku menganut agama Ibrahim, kemudian ‘Ubbadul Qubur dengan orang-orang jahiliyyah itu sama dalam segala hal, sehingga tidak bermanfaat bagi ‘Ubbadul Qubur itu klaim mereka mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau komitmen mereka dengan sebagian syariat agamanya, sebagaimana tidak bermanfaat bagi kuffar Quraisy klaim mereka mengikuti Nabi Ibrahim atau komitmen mereka dengan sebagian syariat agamanya.
Jadi pengakuan menganut Islam bandingannya adalah pengakuan menganut Millah Ibrahim, sebagian syariat yang dipraktekkan sebagai ibadah mereka bandingannya adalah syariat-syariat juga, sedangkan banyak dan sedikit tidaklah berpengaruh dalam keterbuktian iman dan kufur, dan pengakuan terhadap Rububiyyah Allah bandingannya adalah pengakuan mereka terhadap Rububiyyah Allah, dan masing-masing dari dua pihak ini adalah kafir kepada Allah lagi keluar dan lepas dari millah dan dien ini, walaupun dia itu mengaku menganut agama yang benar dan dia murtad darinya dari sejak awal pertumbuhan hidupnya sebagaimana ia adalah keadaan banyak kalangan dari kaum Quburiyyun dan orang-orang jahiliyyah, dan setelah hal itu didahului oleh keislaman fithrah sebagaimana ia adalah keadaan sebagian Quburiyyin dan generasi awal orang yang murtad dari kalangan orang-orang jahiliyyah.
Bahkan termasuk klaim Quburiyyin bahwa apa yang mereka lakukan itu berasal dari perintah Allah dan Rasul-Nya, bandingannya adalah ucapan musyrikin jahiliyyah sebagaimana yang telah Allah hikayatkan tentang mereka: “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, maka mereka berkata: Kami mendapatkan nenek moyang kami mengerjakannya, dan Allah telah memerintahkan kami untuk melakukannya.” (Al A’raf: 28). Ini adalah hujjah mayoritas kaum musyrikin dari kalangan ubbadul Qubur hari ini. Bahkan saya pernah menjumpai dari kalangan pentolan masyayikh kaum musyrikin yang diberi umur panjang orang yang berhujjah dengan hujjah orang-orang kafir terdahulu secara persis, dia berkata: Kamu tidak bisa mengingkari apa yang dilakukan oleh manusia, karena mereka mengambilnya dari bapak-bapak mereka, sedangkan bapak-bapak mereka tidak diragukan lagi mengambilnya dari nenek moyang mereka, dan khalaf mengambilnya dari salaf, terus ia itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!, sedangkan ia itu persis seperti apa yang ada di ayat itu berupa berhujjahnya kaum musyrikin dengan dua hal: Bahwa mereka mendapatkan nenek moyang mereka mengerjakannya, dan  bahwa Allah telah memerintahkan mereka dengannya. Al Hafidh Ibnu Katsir berkata di dalam tafsir ayat itu: “Dan mereka meyakini bahwa perbuatan nenek moyang mereka itu bersandarkan kepada perintah dan syariat dari Allah.” Dan hal ini walaupun datang dalam konteks perbuatan keji yang ditafsirkan dengan thawaf mereka di sekeliling ka’bah seraya telanjang, akan tetapi ia itu menunjukkan terhadap sisi istidlal mereka dengan perbuatan nenek moyang mereka, yaitu dugaan mereka bahwa perbuatan nenek moyang mereka itu atas dasar syariat dari Allah.
Kesalahan ini sebagaimana ia terjadi pada sebagian orang-orang yang menyelisihi dalam masalah pengudzuran dengan sebab kejahilan dari kalangan para pencari ilmu, maka ia juga banyak terjadi pada kalangan awam dalam mengudzur orang yang membangkang (mu’anid) yang masih mengaku muslim, di mana mereka itu tidak mengafirkan seorang pun yang mengaku muslim selamanya, bahkan saya pernah mendengar sebagian orang-orang yang dinamakan sebagai para dai kebangkitan Islam dari kalangan orang sudah banyak berubah dia berkata: “Saya tidak mengafirkan orang yang mengaku muslim,” saat ia ditanya tentang orang semacam Hafidh Al Asad dan para thaghut arab dari kalangan para penguasa murtad. Ini adalah persis syubhat orang awam. Oh andaikata pemahaman ini adalah petunjuk dan kebenaran, maka kenapa Abu Bakar Ash Shiddiq menyusahkan dirinya sendiri dengan memerangi Musailamah dan para pengikutnya sampai para sahabat pilihan hampir habis dan keterbunuhan menjalar di kalangan Qurra yaitu ahli ilmu dan Qur’an?! Dan mayoritas orang-orang yang divonis kafir dari kalangan murtaddin, bila bukan pada umumnya, adalah mereka itu mengaku muslim dan mereka menolak dari dicap dengan selain islam.
Bahkan pembekuan pendapat ini adalah tidak boleh dikafirkan orang yang mengatakan bahwa saya menganut agama Musa atau saya menganut agama Isa berupa agama Yahudi dan Nasrani. Dan pendapat ini adalah ketenggelaman yang dalam kesesatan dan jauh sekali dari dienullah, Kitabullah dan sunnah Rasu-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian bila dikatakan: Hal ini tidak diterima, karena sesungguhnya mereka itu telah kafir setelah pengutusan Muhammad dan penasakhan agama-agama mereka. Maka konsekuensi pernyataan ini adalah bahwa mereka seandainya mengaku beragama Islam setelah pengutusan Muhammad dan mereka tetap di atas apa yang selama ini mereka kerjakan, tentulah orang yang jahil di antara mereka itu diudzur dan tetap sebagai orang muslim. Dan konsekuensinya juga adalah bahwa orang-orang jahil dari mereka itu semuanya adalah orang muslim mu’min di waktu pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka menjadi kafir itu hanyalah setelah pengutusan Nabi, sedangkan pendapat ini adalah jelas kebatilannya.
Dan yang telah lalu itu tidaklah berarti bahwa kami mengatakan bahwa tidak ada perbedaan sama sekali antara orang yang mengaku muslim dengan orang yang tidak mengaku muslim dari kalangan musyrikin, akan tetapi penganutan agama Islam yang dilakukan seseorang setelah sebelumnya dia itu kafir adalah menetapkan baginya status keislaman secara dhahir, kemudahan bila dia tidak komitmen dengan hukum-hukumnya atau melakukan kekafiran yang menggugurkan inti tauhid, maka dia divonis murtad. Adapun kelompok-kelompok kafir yang tumbuh sejak awal di atas pengakuan mereka terhadap agama Islam, maka ada dua pendapat ulama perihal penetapan keislaman bagi mereka dengan sebab mereka mengaku Islam: Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa status keislaman itu disandang oleh mereka dengan sebab pengakuan sedangkan status kemurtaddan melekat pada mereka dengan sebab kekafiran yang dilakukannya. Dan di antara ulama ada yang mengatakan bahwa mereka itu kafir asli, dan bahwa pengakuan Islam mereka itu adalah seperti pengakuan musyrikin Quraisy menganut millah Ibrahim, dan inilah pendapat yang paling benar berdasarkan uraian yang lalu bahwa tidak ada perbedaan  antara dua pengakuan itu. Wallahu a’lam.
Inilah (penjelasan) semoga shalawat dan salam Allah limpahkan kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad, keluarganya dan semua sahabatnya). <Masailul i’tiqad karya syaikh Abdul Aziz Ath thuwaili’iy fakkallahu asrah hal 50-52>.
Al Imam Asy Syaukaniy rahimahullah berkata dalam bantahannya terhadap orang yang mengatakan bahwa ‘ubbadul Qubur itu menetapkan tauhid berbeda dengan selain mereka:
( ولا يخفاك أن هذا عذر باطل؛ فإن إثباتهم للتوحيد إن كان بألسنتهم فقط فهم مشركون في ذلك؛ هم واليهود والنصارى والمشركون والمنافقون، وإن كان بأفعالهم، فقد اعتقدوا في الأموات ما اعتقده أهل الأصنام في أصنامهم ) [ الرسائل السلفية ( 8 / 35 )
(Dan tidak samar atas dirimu bahwa ini adalah alasan yang batil, karena penetapan mereka terhadap tauhid itu bila dengan lisan mereka saja, maka telah sama di dalam hal itu antara mereka dengan orang-orang Yahudi, Nashrani, kaum musyrikin dan munafiqin, dan bila dengan perbuatan mereka, maka mereka itu telah meyakini pada patung-patung mereka). <Ar Rasail As Salafiyyah 8/35>
Sisi Ketiga:
Bahwa qurun antara Adam dengan Nuh itu, bapak-bapak mereka berada di atas Islam, dan syirik hanyalah terjadi setelah kematian orang-orang shalih yang dahulu ada di tengah mereka, dan ilmu pun lenyap dan tidak tersisa kecuali orang-orang jahil, maka datanglah kepada mereka syaitan dan membisikkan kepada mereka agar memajang patung orang-orang shalih itu agar mereka teringat kepada mereka dengannya, maka merekapun melakukan, kemudian tatkala orang-orang itu mati maka datanglah generasi setelah mereka dan syaitan pun membisikkan kepada mereka bahwa para pendahulu mereka itu mengibadati patung-patung itu, maka mereka pun mengibadatinya selain Allah, maka saat itu Allah pun mengutus Nuh Rasul-Nya kepada mereka yang mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah saja. Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ ، أَنْ لا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”. (QS. Huud: 25-26)
Maka tidak bermanfaat bagi mereka keberadaan mereka dahulu pernah berada di atas tauhid dan (keberadaan) bahwa mereka itu berasal dari keturunan orang-orang yang bertauhid.
Penerjemah berkata :
Selesai diterjemahkan di lapas kelas 2A
Salemba Jakarta 5 Ramadhan 1433 H.
(Abu Sulaiman Aman Abdurrahman)
*****

Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan (Bag. 3 – TAMAT)

TEMPAT KEEMPAT

Tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilaah Yang Maha Esa, tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 31)
Berkata syaikh rahimahullah:
Allah telah menyebutkan dalam ayat yang mulia dari surat Al Bara’ah ini apa yang terjadi pada diri orang-orang Yahudi dan Nashara, di antaranya mereka menisbatkan anak kepada Allah, dan hal itu diikuti langsung dengan firman-Nya:
قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (At Taubah: 30)
Bagaimana mereka berpaling dari kebenaran padahal jelas sekali hal itu dan justeru mereka mendakwakan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki anak. Mereka berkata bahwa Uzair anak Allah, Al-Masih anak Allah…. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar dari apa yang mereka katakan. Kemudian Allah menyebutkan dosa dan aib-aib mereka yang lain. Ia ‘Azza wa Jalla berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam” (At Taubah: 31)
Yaitu mereka menjadikan Al Masih Ibnu Maryam sebagai tuhan selain Allah; ayat ini telah ditafsirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menerangkan kepada ‘Adiy Ibnu Hatim radliyallahu ‘anhu ketika ia bertanya kepada Nabi (akan makna itu). Telah dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan yang lainnya dari ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa dia mendatangi Nabi sedang di lehernya ada salib dari emas, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Keluarkan berhala ini dari lehermu,” lalu ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca.
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31)
Sedangkan ‘Adiy pada zaman jahiliyah adalah seorang Nasrani, maka ia berkata: “Kami tidak pernah menyembah mereka dari selain Allah,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Bukankah mereka mengharamkan atas kalian apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah lalu kalian mengikutinya?” Ia menjawab: “Ya”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang demikian itu adalah bentuk penyembahan terhadap mereka”. Hal inilah makna dari ayat “Mereka menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan…..” Dan hal ini merupakan tafsir Nabawi yang memutuskan bahwa setiap orang yang mengikuti pembuat syari’at/hukum yang menghalalkan dan mengharamkan yang bertentangan dengan Allah, maka sesungguhnya ia itu adalah menyembah kepadanya, ia mengambilnya sebagai tuhan, ia musyrik (menyekutukannya), kafir kepada Allah. Inilah tafsir yang benar lagi tidak ada ragu dalam kebenarannya. Alyat-ayat Al Qur’an lain sebagai penguat kebenarannya tidak terhitung jumlahnya dalam mushaf Al Qur’anul Karim. Dan insya Allah akan kami jelaskan sebagian darinya.
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa syirik kepada Allah dalam hukumnya dan syirik kepada-Nya dalam ibadah, keduanya adalah sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Maka orang-orang yang mengikuti selain hukum dan peraturan Allah (atau sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah) serta undang-undang yang menyelisihi syari’at Allah seraya berpaling dari cahaya langit yang diturunkan Allah kepada lisan Rasul-Nya, maka orang yang melakukan hal ini dan orang yang menyembah patung, atau sujud kepada berhala-berhala sekali-kali tidak ada perbedaan, mereka musyrik kepada Allah. Yang satu syirik dalam ibadah, sedangkan yang lain syirik dalam hukum-Nya, sedangkan syirik dalam ibadah dan syirik dalam hukum keduanya adalah sama. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam syirik ibadah:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al Kahfi: 110)
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman berkenaan dengan syirik dalam hukum-Nya:
لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“Kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Al Kahfi: 26)
Pada qira’ah Ibnu ‘Amir (yang terasuk qurra’ yang tujuh):
وَلا تُشْرِكْ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“Dan janganlah kamu menyekutukan seorangpun dalam hukum-Nya”
Dibaca dengan sighah (bentuk ungkapan) larangan, dan kedua bacaan tersebut sama-sama menyatakan (larangan) syirik kepada Allah, oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ‘Adiy Ibnu Hatim bahwasanya mereka (Yahudi dan Nasrani) ketika mengikuti peraturan mereka (para ulama dan pendeta) dalam penghalalan dan pengharaman serta pensyari’atan yang menyelisihi syari’at Allah, maka mereka itu menjadi penyembah sekaligus menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan. Sedang ayat-ayat Al Qur’an yang sangat jelas dalam makna ini adalah tidak terhitung. Dan di antara yang paling jelas adalah perdebatan yang terjadi antara golongan Ar Rahman dan Syaitan dalam pengharaman dan penghalalan daging bangkai. Golongan syaitan berdalil dengan wahyu dari syaitan agar menanyakan kepada Muhammad tentang siapa yang mematikan kambing yang mati. Ketika dijawab bahwa Allah ‘Azza wa Jalla yang mematikannya, mereka berhujjah dengan filsafat wahyu dari syaitan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya yang mengharamkan bangkai. Mereka berkata kepada kaum muslimin: “Apa-apa yang kalian sembelih dengan tangan kalian (kalian anggap) halal sedangkan apa yang disembelih Allah dengan tangan-Nya yang mulia kalian mengatakannya haram, kalau begitu kalian lebih mulia dari Allah”. Hal ini termasuk filsafat syaitan dan wahyu dari Iblis yang mana para kafir Makkah berdalih dengannya dalam rangka mengikuti hukum syaitan, syari’atnya, dan peraturannya dengan dalih bahwa apa yang disembelih Allah lebih halal dari apa yang disembelih manusia, dan sembelihan Allah lebih suci dari apa yang disembelih manusia. Sedangkan para shahabat Nabi mengharamkan bangkai dengan wahyu Ar Rahman dalam ayat: “telah diharamkan atas kalian bangkai”, dan juga ayat: “Dia hanya mengharamkan atas kalian bangkai”.
Orang-orang muslim berdalil dengan wahyu dari langit, sedangkan mereka berdalih dengan filsafat, wahyu syaitan serta mengadakan perdebatan dan pertengkaran. Maka penguasa langit memutuskan dengan wahyu dari-Nya. Ia menurunkan Al Qur’an yang dibaca pada surat Al An’am yang menetapkan kepada makhluk-Nya bahwa siapa saja yang mengikuti peraturan, syari’at dan undang-undang yang bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah atas lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia musyrik (menyekutukan) Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai tuhan. Maka Allah menurunkan firman-Nya:
وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ (١٢١)
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya -yaitu bangkai meskipun mereka mengatakannya bahwa itu sembelihan Allah dan lebih suci- Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan -yaitu bahwa memakan bangkai itu adalah suatu kefasikan, yaitu keluar dari ketaatan kepada Allah kepada ketaatan kepada syaitan- Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya -dari kalangan orang-orang kafir, seperti kuffar Makkah- agar mereka membantah kamu; -dengan wahyu dari syaitan, yaitu apa yang kalian sembelih halal sedangkan apa yang Allah sembelih kalian haramkan, jadi kalian lebih baik dari Allah- dan jika kamu menuruti mereka,  -yaitu mengikuti mereka dalam aturan yang diletakan syaitan bagi para pengikutnya seraya dia memberikan dalil dengan wahyunya atas hal itu- Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik -terhadap Allah lagi menjadikan makhluk yang lalian ikuti hukumnya sebagai tuhan selain Allah-“ (Al An’am: 121)
Dan syirik yang disebutkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari agama Islam dengan ijma kaum muslimin, dan itu adalah diisyaratkan kepadanya oleh Allah dengan firman-Nya:
إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (١٠٠)
“Sesungguhnya kekuasaan-Nya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (Al Nahl: 100)
Yaitu apa yang ditegaskan oleh syaitan dalam khutbahnya di hari kiamat yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ
“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri, aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. (Ibrahim: 22)
Dan itu adalah yang dimaksud sesuai penafsiran yang paling benar dengan firman-Nya:
بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ
“bahkan mereka telah menyembah jin” (Saba: 41)
Yaitu mereka menyembah syaitan-syaitan dengan cara mengikuti undang-undang dan hukum-hukumnya yang dilontarkan kepada lisan-lisan orang-orang kafir, dan itu adalah yang telah dilarang oleh Ibrahim terhadap ayahnya:
يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ
“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan.” (Maryam: 44)
Yaitu dengan mengikuti apa yang dia tetapkan terhadapmu berupa aturan kekufuran dan maksiat yang bertentagan dengan syari’at Allah yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya. Dan ibadah ini adalah yang di mana Allah mencela dengan keras terhadap pelakunya serta Dia jelaskan tempat kembalinya yang terakhir dalam surat Yasin dangan firman-Nya:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (Yasin: 60)
Mereka itu tidak mengibadati syaitan dengan sujud dan ruku, namun mereka menyembahnya dengan cara mengikuti aturan, hukum dan undang-undangnya, dia (syaitan) mensyari’atkan bagi mereka hal-hal yang lain dari apa yang disyari’atkan Allah, kemudian mereka itu mengikutinya dan meninggalkan apa yang telah Allah syari’atkan, sehingga dengan cara itu mereka telah menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Adiy Ibnu Hatim radliyallahu ‘anhu, dan ini adalah hal yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Dan inilah yang dimaksud dengan firman-Nya:
وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا
“Dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,” (An Nisa: 117)
Yaitu mereka itu tidak menyembah kecuali syaitan yang durhaka, yaitu dengan bentuk ibadah (mengikuti) aturan dan syari’atnya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut” (An Nisa: 60)
Semua orang yang berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan maka dia itu berhakim kepada thaghut, sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang ingin berhakim kepada thaghut, dan mereka itu mengklaim bahwa mereka itu beriman kepada Allah, sehingga Allah mengarahkan Nabi-Nya untuk heran atas kedustaan dan ketidak maluan mereka itu dengan firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku -anjuran untuk heran dari mereka- dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. (An Nisa; 60)
Syaitan dengan pensyari’atan peraturan dan hukum yang dimana mereka berjalan di atasnya menginginkan untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sangat jauh.
Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah bersumpah dengan sumpah samawiy bahwa sesungguhnya tidak ada sedikitpun iman bagi orang yang tidak merujukan hukum kepada Rasulullah dalam apa yang beliau bawa dari Allah dengan penuh keikhlasan dari lubuk hati yang sangat dalam, dan ini tercantum dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥)
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) sekali-kali tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hatinya.” (An Nisa: 65)
Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam ayat-ayat yang sangat banyak di dalam kitab-Nya bahwa hukum itu hanyalah milik-Nya saja tidak ada satu sekutupun baginya di dalam hukum-Nya, dan Dia setiap menuturkan kekhususan-Nya akan hukum selalu menyebutkan tanda-tanda yang sangat jelas yang membedakan antara Dzat yang berhak untuk menentukan hukum, memerintah, melarang, mensyari’atkan, menghalalkan dan mengharamkan dengan dzat yang tidak berhak akan itu semua, Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)
Dan firman-nya ‘Azza wa Jalla:
لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Al Qashash: 70)
Dan kami akan memberikan contoh bagi anda sekalian.
Di antaranya firman-Nya dalam surat Asy Syuraa:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy Syuraa: 10)
Seolah Allah mengatakan: Dzat yang menjadi rujukan dan yang perkataan-Nya serta ketentuan-Nya menjadi acuan adalah Dzat yang memiliki sifat-sifat yang berbeda dari yang lainnya, Dia berfirman:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy Syuraa: 10)
Kemudian Dia menjelaskan sifat-sifat Dzat yang memiliki hak hukum, tasyri’, penghalalan dan pengharaman, serta perintah dan larangan, Dia berfirman:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (١٠) فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١٢)
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku, kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.  (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Melihat. Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Asy Syuraa: 10-12)
Ini adalah sifat-sifat Dzat Yang berhak menentukan hukum, menghalalkan, mengharamkan, memerintah dan melarang.
Wahai saudara-saudara apakah anda melihat pada para kera dan para babi yang meletakan hukum-hukum buatan[1] (Qawaniin Wadl’iyyah) itu ada di antara mereka seorang yang memiliki sifat-sifat tadi -yang merupakan sifat-sifat Dzat Yang menentukan hukum, menghalalkan dan mengharamkan, serta memerintah dan melarang-??, dan di antara ayat yang menunjukan  macam ini adalah firman-Nya dalam surat Al Qashash:
وَهُوَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٧٠)
“Dan Dialah Allah, tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Al Qashash: 70)
Kemudian Dia menjelaskan Dzat Yang berhak akan hukum, Dia berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ (٧١) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلا تُبْصِرُونَ (٧٢) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٣)
“Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Al Qashas: 71-73)
Apakah di antara para kera dan para babi yang meletakan peraturan-peraturan, dan mereka mengklaim bahwa mereka itu dengannya menertibkan hubungan-hubungan manusia serta mengikat urusan-urusan mereka, apakah di antara mereka itu ada yang berhak diberi sifat-sifat ini yang merupakan sifat-sifat Dzat Yang berhak untuk menentukan hukum, memerintah dan melarang, serta menghalalkan dan mengharamkan??
Dan di antaranya adalah firman-Nya di akhir surat Al Qashash:
وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٨)
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 88)
Ayat-ayat dalam hal ini adalah banyak sekali
Walhasil, bahwa tasyri’ (hak membuat hukum itu) hanya bagi Dzat Yang Maha Tinggi Yang tidak mungkin di atas-Nya ada yang memerintah, melarang serta mengatur, Dia adalah kekuasaan tertinggi. Adapun makhluk yang jahil, kafir lagi memperihatinkan sama sekali tidak ada hak untuk menghalalkan dan mengharamkan, namun yang sungguh mengherankan adalah orang-orang yang di tengah-tengah mereka ada Kitabullah dan mereka mewarisi Islam dan leluhur mereka, di sisi mereka ada Al Qur’an yang agung, cahaya yang jelas dan sunnah makhluk terbaik shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada Rasul-Nya segala sesuatu, namun dengan adanya ini semua mereka berpaling darinya seraya bermain-main, karena menurut klaim mereka bahwa Islam itu tidak bisa mengatur kehidupan setelah terjadi perkembangan yang pesat!!! Mereka mencari kebenaran di tong sampah pikiran orang-orang kafir yang babi ini sedang mereka itu tidak mengetahui apa-apa sedikitpun. Ini merupakan bentuk penghapusan bashirah, kita berlindung kepada Allah, tidak ada yang membenarkannya kecuali orang yang telah melihatnya, namun kelelawar-kelelawar itu berpaling dari Al Qur’an. Al Qur’an yang agung adalah cahaya… sedangkan kelawar tidak bisa melihat cahaya, kelelawar dibutakan oleh cahaya, ia tidak bisa melihat kecuali di kegelapan malam.
Al Qur’an yang mulia, mereka berpaling darinya. Anda bisa melihat salah seorang di antara mereka yang di mana dia itu tokohnya, tanpa malu-malu dari Allah dan dari manusia dengan wajah yang tidak berair dan dengan keponggahannya, dia mengumumkan bahwa dia menentukan hukum bagi dirinya dan bagi rakyatnya yang merupakan masyarakatnya dan yang dipikul tanggung jawabnya, dia menentukan hukum dalam agama mereka, jiwa mereka, akal mereka, badan mereka, harta mereka, dan dalam kehormatan mereka dengan undang-undang bumi yang diletakan oleh babi-babi orang kafir yang bodoh-bodoh di mana mereka itu adalah anjing-anjing dan babi-babi sama seperti mereka. Mereka adalah makhluk Allah yang paling bodoh, berpaling dari cahaya langit yang ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla melalui lisan makhluk-Nya, ini merupakan bentuk penghapusan bashirah, tidak dibenarkan kecuali oleh orang yang telah melihatnya, kita berlindung darinya kepada Allah. Ya Allah, janganlah Engkau menghapus bashirah-bashirah kami dan janganlah Engkau menyesatkan kami setelah Engkau memberi kami petunjuk.
Ketahuilah wahai ikhwan, bahwa setiap orang yang congkak di hadapan Sang Pencipta ‘Azza wa Jalla tanpa rasa malu di wajahnya, dia berpaling dari apa yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengklaim bahwa ajaran itu tidak mampu mengatur/mengurus hubungan-hubungan dunia!!! dia mencari cahaya dan petunjuk dari kotoran-kotoran pemikiran babi-babi kafir nan durjana yang di mana mereka itu adalah orang-orang yang kebangetan bodohnya. Ketahuilah bahwa dia, Fir’aun, Hamman, Qarun itu sama statusnya dalam kekafiran, karena dia berpaling dari Allah dan dari tasyri’-Nya, dia lebih mengutamakan tasyri’ syaitan dan hukum Iblis yang disyari’atkan lewat lisan-lisan para tentaranya, dan dia itu sama sekali tidak memiliki keimanan dari arah manapun sebagaimana yang telah anda lihat dalam ayat-ayat yang banyak yang menunjukan akan hal itu serta perintah Allah terhadap Nabi-Nya agar merasa heran dari klaim mereka akan keimanan.
Maka kewajiban kaum muslimin semuanya adalah mengetahui dan meyakini dan kami mengatakan dengan tidak ada keraguan padanya bahwa wajib atas orang Islam siapa saja dia untuk mengetahui bahwa tidak ada yang halal kecuali apa yang Allah halalkan, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang Allah haramkan, serta tidak ada agama kecuali apa yang telah Allah syari’atkan, maka selain Allah tidak ada hak akan penghalalan dan pengharaman, karena dia adalah hamba yang miskin, lemah lagi diatur, wajib atasnya agar beramal sesuai perintah Tuhannya dengan apa yang Dia syari’atkan. Ini adalah makna firman-Nya:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31)
Dari kaset rekaman dengan suara Syaikh rahimahullah.
Dan akhir seruan kami adalah Alhamdulillahi rabbil ‘alaamin….
******

Tentara Putus Asa Suriah Mengamuk, Terkait Keberhasilan Mujahid Menahan 48 Gerombolan Shabiha, Allahu Akbar!

AFP
Fajar Riswandi untuk Al-Mustaqbal.net
ALEPPO,SURIAH-Tentara Suriah melakukan penyerangan terhadap Tentara Pembebasan Suriah (AFP) di Aleppo kemarin setelah keberhasilan mereka menguasai distrik suriah.
Lebih dari 20.000 tentara Suriah yang berkumpul di sekitar Aleppo, kata sumber militer. Tentara yang putus asa ini mengamuk untuk menguasai kota kedua negara itu. Jet tempur, helikopter dan artileri telah digunakan untuk menyerang Tentara Pembebasan Suriah menjelang serangan skala penuh.
Sementara itu, Iran sedang berusaha membebaskan 48 warga Iran yang diculik pada hari Sabtu (04/08/2012). 
 Diplomat Iran dan televisi negara Suriah menayangkan penculikan yang terjadi di dekat kuil Sayyida Zainab di pinggiran kota Damaskus, pada "kelompok bersenjata" (mujahid-pen). Teheran, sekutu utama daerah Damaskus, telah berulang kali membantah telah mengirim unit-unit militer ke Suriah.

Sebuah sumber keamanan tingkat tinggi mengatakan Tentara Pembebasan Suriah selesai melakukan penyebarannya bala bantuan ke Aleppo, siap untuk melakukan  konfrontasi yang menentukan.
"Semua bala bantuan telah tiba dan mereka mengelilingi kota," katanya. "Militer siap untuk meluncurkan ofensif, tapi sedang menunggu perintah."

Seorang tokoh senior pemerintah  memperingatkan pada hari Sabtu bahwa "pertempuran untuk Aleppo belum dimulai, dan apa yang terjadi sekarang hanya appetizer ... Hidangan utama akan datang kemudian."Pasukan pembebasan Suriah menguasai kabupaten Salaheddin di barat daya dan bentrokan meletus di lingkungan Sukkari, Hamdaniyeh dan Ansari.

Oposisi Suriah, Dewan Nasional menuduh bahwa pemboman tentara AFP memukul institusi publik penting di ibukota komersial. Pada hari Sabtu, kekerasan nasional menewaskan 205 orang - 115 warga sipil, dan 52 tentara, kata Observatorium.

Tentara Suriah mengatakan, Sabtu pihaknya telah merampas wilayah yang dikuasai AFP terakhir dari Damaskus.
Seorang brigadir jenderal mengklaim kepada wartawan, lingkungan Tadamun telah direbut kembali setelah pertempuran berat.

Dalam pembelotan tingkat tinggi terbaru, Jenderal Ahmed Muhammed Faris, seorang penerbang militer Suriah melarikan diri ke Turki kemarin, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Turki, Anatolia. Semoga Allah SWT., memenangkan para Mujahidin di bumi Syam, Insya Allah!
Sumber : www.thedailystar.net

Mawani’ Takfier Yang Dianggap (Bagian 16 – Tamat)

   Contoh-Contoh Untuk Penjelasan

(1)     Syirik Doa Dan Istighatsah

A. Perbedaan Antara Doa Dengan Istighatsah
Istighatsah adalah memohon pelenyapan kesulitan,[1] sedangkan perbedaan antara ia dengan doa adalah bahwa istighatsah itu tidak terjadi kecuali dari kesusahan, sebagaimana firman Allah ta’ala:
فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ
“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya” (Al Qashash: 15)
Dan firman-Nya ta’ala:
 إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ (٩)
“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut”. (Al Anfal: 9)

Doa itu lebih umum dari istighatsah, karena doa itu terjadi dilakukan dari kesusahan dan yang lainnya.
Doa ada dua macam:
Doa itu ada dua macam, yaitu doa ibadah dan doa permintaan, dan kedua-duanya adalah saling berkaitan, dan kedua-duanya adalah syirik (bila dipalingkan kepada selain Allah), dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala dimohon untuk manfaat dan madlarat dengan doa permintaan, dan Dia dimohon karena rasa takut dan pengharapan dengan doa ibadah.
  • Doa ibadah
Allah Subhanahu Wa Ta’alaberfirman tentang doa ibadah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” (Al Mukmin/Ghafir: 60)
Maka terbuktilah bahwa doa itu dalam rangka ibadah dan ia adalah ibadah yang paling mulia di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan syirik di dalam doa adalah syirik terbesar kaum musyrikin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا (٤٨) فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا (٤٩)
“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi.” (Maryam: 48-49)[2]
Dan berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (Al Jinn: 18)
Yaitu janganlah kalian mengibadati siapapun bersama Allah. Dan berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Al A’raf: 55)
Dan hal ini sangat banyak dalam Kitabullah ta’ala.
  • Doa Permintaan
Allah ta’ala berfirman perihal mas-alah (permintaan):
قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٤٠) بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, Apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!” (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadanya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).” (Al An’am: 40-41)
Dan berfirman:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلا فِي ضَلالٍ
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar Ra’du: 14)
Dan berfirman:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا
“Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.” (Al Isra: 56)
Dan berfirman:
وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. (Yunus: 106)
B. Syubhat Yang Lemah
Di antara orang-orang ada orang yang mengudzur orang-orang yang beristighatsah kepada selain Allah di sisi kuburan, dengan alasan bahwa mereka itu tidak mengetahui bahwa doa itu ibadah, dan andaikata mereka mengetahui tentu mereka tidak memalingkan doa mereka kepada selain Allah karena mereka takut terhadap syirik.
Terus orang-orang itu menambahkan bahwa tatkala syar’iy menegaskan bahwa doa itu ibadah, maka berarti hal itu tergolong khabariyyat (berita-berita) yang wajib ada penegakkan hujjah dengan menyampaikannya sebelum pemberlakuan vonis-vonis hukum, karena ia itu tidak bisa didapatkan dengan fithrah. Pernyataan ini adalah kebodohan, kelalaian, dan pengkaburan yang tidak terjatuh ke dalamnya kecuali orang-orang yang tidak membedakan antara doa ibadah dengan doa mas-alah.
Dan bila kita menerima keberadaan dia itu tidak mengetahui bahwa doa itu adalah ibadah, maka apakah dia tidak mengetahui -sedangkan ia adalah meminta kepada yang dimohon- sifat-sifat Rububiyyah yang hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang mana hanya milik-Nya penciptaan, kekuasaan, dan perintah, dan yang mana sifat-sifat tersebut telah diakui oleh kaum musyrikin?
Dan apa yang diinginkan oleh orang yang beristighatsah dari mustaghats bih (yang diminta pertolongannya)? Ataukah dia itu tidak mengetahui bahwa mustaghats bih itu makhluk yang tidak memiliki kewenangan penciptaan, dan kekuasaan dan tidak bisa mendatangkan manfaat dan madlarat serta tidak memiliki sedikitpun dari kewenangan/urusan pengaturan? Dan apa hukumnya bila dia tidak mengetahui hal itu? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Al Faathir: 13)
Dan berfirman:
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (Al Ankabut: 17)
أَمْ مَنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلا فِي غُرُورٍ
“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.” (Al Mulk: 20)
C. Kaum Musyrikin Bersandar Kepada Allah Disaat Sulit
Sungguh dahulu kaum musyrikin memurnikan doa (kepada Allah) pada kondisi-kondisi genting. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (Al Ankabut: 65)
Namun mereka tidak meraih keimanan dengan doa mereka kepada Allah saja di saat kondisi genting. Allah ta’ala berfirman:
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al Isra: 67)
Adapun mereka itu, maka mereka menginginkan dari mayit-mayit itu pelenyapan bencana dan pemenuhan kebutuhan dan mereka menyeru mereka dalam kondisi sulit dan lapang. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mencela kaum musyrikin dengan firman-Nya ta’ala:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (An Naml: 62)
Sungguh mereka itu telah mengetahui bahwa hal itu milik Allah saja dan bahwa tuhan-tuhan mereka tidak memiliki kewenangan sedikitpun dari hal itu, oleh sebab itu Allah menghujjah mereka dengan pengakuan mereka itu bahwa Dia-lah Tuhan yang Haq, dan bahwa ketuhanan yang selain-Nya adalah bathil.
D. Nama Islam Tanpa Hakikatnya Tidak Manfaat
Sesungguhnya engkau wahai saudara seiman bila teringat bahwa orang-orang yang membela-bela kaum musyrikin -yaitu orang-orang bodoh yang tidak memahami ucapan-ucapan ulama- mereka itu hampir menyematkan keislaman kepada setiap orang yang mengaku muslim walaupun dia itu mendatangkan kemusyrikan yang nyata dan kekafiran yang terang karena kebodohan, taqlid dan mengikuti syubhat-syubhat, maka engkau mendapati begitu bahayanya kaidah-kaidah mereka yang bathil, dan manhaj mereka yang rusak itu terhadap dakwah tauhid yang murni ini.
Kaum quburiyyun yang beristighatsah kepada mayit lagi mengusap-ngusap tembok kuburan seraya mengharapkan pemenuhan kebutuhan dan penyingkapan kesulitan lagi bertaqarrub dengan sembelihan dan nadzar juga memelas kepada khuburan, mereka itu menurut orang-orang tadi adalah tergolong kaum muslimin karena mengucapkan dua kalimah syahadat dan menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, dan mereka itu tidak dikafirkan baik hukum dunia maupun akhirat sampai ditegakkan hujjah terhadap mereka bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik, dan dilenyapkan dari mereka syubhat yang menjerumuskan mereka kepadanya. Ini demi Allah adalah bencana terbesar, karena tidak ada perbedaan antara quburiyyun dengan para penyembah berhala dari kalangan Quraisy selain nama.
Al ‘Alamah Ash Shan’aniy berkata:
( النذر بالمال على الميت ونحوه والنحر على القبر والتوسل به وطلب الحاجات منه ، هو بعينه الذي كانت تفعله الجاهلية ، وإنما كانوا يفعلونه لما يسمونه وثنا وصنما ، وفعله في القبوريون لما يسمونه وليا وقبرا ومشهدا ، والأسماء لا أثر لها ولا تغير المعاني ، ضرورة لغوية وعقلية وشرعية ، فإن من شرب الخمر وسماها  ماءً ما شرب إلا خمرا ..)
(Nadzar harta terhadap mayyit dan yang lainnya, juga menyembelih di atas kuburan, tawasul dengannya dan meminta hajat darinya, ia adalah apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah, akan tetapi mereka melakukan kepada apa yang mereka namakan sebagai berhala dan patung, sedangkan kaum quburiyyun melakukannya kepada apa yang mereka namakan sebagai wali, kuburan dan tempat keramat. Sedangkan nama-nama itu tidak memiliki pengaruh dan tidak bisa merubah makna hakikat, baik secara tuntutan bahasa, akal, maupun syari’at, karena sesungguhnya orang yang meminum khamr dan menamainya dengan air maka ia itu tidak meminum kecuali khamr…)[3]
Al ‘Alamah Asy Syaukani berkata:
( ومن المفاسد البالغة إلى حد يرمي بصاحبه وراء حائط الإسلام ويلقيه على أم رأسه من أعلى مكان الدين ، أن كثيرا منهم يأتي بأحسن ما يملكه من الأنعام وأجود ما يحوز من المواشي ، فينحره عند ذلك القبر ، متقربا به إليه ، راجيا ما يضمن حصوله له منه ، فيهل به لغير الله ويتعبد به لوثن من الأوثان ، إذ أنه لا فرق بين نحر النحائر لأحجار منصوبة يسمونها وثنا وبين قبر لميت يسمونه قبرا ، ومجرد الاختلاف في التسمية لا يغني من الحق شيئا)
(Dan di antara kerusakan yang sangat parah yang sampai melemparkan pelakunya ke belakang tembok Islam dan menjatuhkannya di atas kepalanya dari tempat paling tinggi agama ini adalah bahwa banyak dari mereka datang dengan membawa binatang terbaik yang dimilikinya dan ternak termahal yang dipiaranya terus ia menyembelihnya di pinggir kuburan itu seraya bertaqarrub kepadanya dengan hal itu lagi mengharapkan apa yang dia dapatkan darinya, dimana dia menyebut selain Allah saat menyembelih, beribadah dengannya kepada berhala, karena tidak ada perbedaan antara penyembelihan hewan untuk batu yang dipajang yang mereka namakan sebagai berhala dengan kuburan si mayit yang mereka namakan sebagai kuburan. Dan sekedar perbedaan dalam penamaan itu sama sekali tidak berguna sedikitpun.[4]
Beliau rahimahullah telah menuturkan tipu daya syaitan kepada kaum quburiyyun dalam memperindah kuburan, membangunnya dan memberikan lampu untuknya serta hal lainnya yang membuat hati peziarah terpesona dan terbius (sampai akhirnya ia meminta dari penghuni kuburan itu apa yang tidak kuasa terhadapnya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga jadilah dia itu sebagai bagian kaum musyrikin).[5]
Beliau rahimahullah telah menjelaskan makna syirik dalam rangka membantah orang yang mengklaim bahwa orang musyrik itu adalah orang yang menyembah patung dan batu…. beliau berkata: (Syirik adalah melakukan kepada selain Allah suatu yang menjadi hak khusus Allah, baik ia menyematkan kepada selain Allah itu apa yang disematkan oleh ahli jahiliyyah seperti patung dan berhala atau ia menyematkan nama lain kepadanya seperti nama wali, kuburan dan masyhad (tempat ziarah)…)[6]
Ini semua tergolong hal yang menjelaskan bahwa orang-orang yang beristighatsah kepada mayit itu adalah orang-orang musyrik dan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik, walaupun nama-namanya berubah dan banyak berbagai klaim. Dan telah lalu dalam pembicaraan tentang penghalang “kejahilan” bahwa kejahilan macam ini tidak diudzur pelakunya, karena ia adalah pengguguran terhadap ashluddien (inti dien ini), dimana pelakunya langsung dikafirkan dan tidak boleh tawaqquf di dalamnya.
Asy Syaukani rahimahullah berkata:
( ليس مجرد قول – لا إله إلا الله من دون عمل بمعناها مثبتا للإسلام فإنه لو قالها أحد من أهل الجاهلية وعكف على صنمه يعبده لم يكن ذلك إسلاما )
(Sekedar pengucapan Laa ilaaha illallaah tanpa pengamalan maknanya tidaklah menetapkan keislaman, karena sesungguhnya seandainya seseorang dari ahli jahiliyyah mengucapkannya dan dia tetap bersidekap terhadap berhalanya sembari mengibadatinya maka hal itu bukan keislaman).[7]
Oh, alangkah bodohnya orang yang mengudzurnya dengan sebab kejahilannya dengan menamakannya sebagai orang muslim, dan oh… alangkah bahayanya dia terhadap dakwah tauhid yang murni.

(2)   Tawalli Kepada Orang-Orang Kafir Dengan Meninggalkan Kaum Mukminin

Ini adalah tergolong bentuk kekafiran kepada Allah dan kemurtadan dari Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨)
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)
Ibnu Jarir rahimahullah berkata:
( من اتخذ الكفار أعوانا وأنصارا وظهورا يواليهم على دينهم ويظاهرهم على المسلمين فليس من الله في شيء ، أي قد برئ من الله وبرئ الله منه بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر ، ﴿إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً﴾  أي : إلا أن تكونوا في سلطانهم فتخافوهم على أنفسكم فتظهروا لهم الولاية بألسنتكم وتضمروا العدواة ولا تشايعوهم على ما هم عليه من الكفر ولا تعينوهم على مسلم بكفر )
(Barangsiapa menjadikan orang-orang kafir sebagai pembela dan penolong serta pelindung yang mana ia berloyalitas kepada mereka di atas dien mereka dan membantu mereka dalam mengalahkan kaum muslimin, maka dia itu tidak mendapatkan apapun dari Allah, yaitu ia telah lepas diri dari Allah, dan Allah pun lepas diri darinya dengan sebab dia murtad dari agamanya dan masuk dalam kekafiran “kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka,” yaitu kecuali kalian berada dalam kekuasaan mereka dimana kalian mengkhawatirkan mereka terhadap diri kalian terus kalian menampakkan loyalitas kepada mereka dengan lisan kalian dan menyembunyikan permusuhan dan kalian tidak mengikuti mereka di atas kekafiran mereka dan tidak membantu mereka terhadap seorang muslimpun dengan dengan kekafiran)[8]
Dan Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٥١)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Maidah: 51)
Ibnu Jarir berkata:
( من تولى اليهود والنصارى من دون المؤمنين فإنه من أهل دينهم وملتهم ، فإنه لا يتولى متول أحدا إلا وهو به وبدينه وما هو عليه راض وإذا رضيه ورضي دينه فقد عادى ما خالفه وسخطه، وصار حكمُه حكمَه )
(Barangsiapa tawalli kepada orang Yahudi dan Nasrani dengan meninggalkan orang-orang mukmin, maka dia itu tergolong penganut agama dan millah mereka, karena tidak seorangpun tawalli kepada seseorang melainkan dia itu ridla terhadapnya, terhadap diennya dan terhadap apa yang dianutnya, dan bila dia meridlainya dan meridlai diennya maka dia itu telah memusuhi dan membenci apa yang menyelisihinya, dan statusnya menjadi sama dengan status hukum orang itu).[9]
Dan Ibnu Hazm berkata:
وصح أن قول الله تعالى: ﴿  وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ﴾ إنما هو على ظاهره بأنه كافر من جملة الكفار ، وهذا حق لا يختلف فيه اثنان من المسلمين )
(Dan telah sah bahwa firman Allah ta’ala: “Dan barangsiapa di antara kalian tawalli kepada mereka, makas sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka” adalah sesuai dengan dhahirnya bahwa dia itu kafir termasuk jajaran orang-oarng kafir, dan ini adalah kebenaran yang tidak diperselisihkan di antara kaum muslimin.)[10]
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
( أخبر الله في هذه الآية أن متوليهم هو منهم وقال سبحانه: ﴿ وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِالله والنَّبِيِّ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاء وَلَـكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ  ﴾. فدل على أن الإيمان المذكور ينافي اتخاذهم أولياء ويضاده ، ولا يجتمع الإيمان واتخاذهم أولياء في القلب ، فالقرآن يصدق بعضه بعضا )
(Allah telah mengabarkan dalam ayat ini bahwa orang yang tawalli kepada mereka adalah bagian dari mereka. Allah ta’ala berfirman: “Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al Maidah: 81) Maka ini menunjukan bahwa iman yang disebutkan itu meniadakan dan kontradiksi dengan sikap menjadikan mereka sebagai auliya (pemimpin), dan iman itu tidak berkumpul dengan sikap menjadikan mereka sebagai auliya di dalam satu hati, maka Al Qur’an itu sebagiannya membenarkan sebagian yang lain).[11]
Akan tetapi dalam payung kejahilan terhadap tauhid dan dan lenyapnya hakikat iman, muncullah beraneka ragam bentuk loyalitas kepada musuh-musuh dien ini, seperti pemberlakuan undang-undang mereka, ketaatan kepada mereka, kecenderungan kepada mereka, berbasa-basi terhadap mereka, duduk-duduk bersama mereka di saat mereka memperolok-olok ayat-ayat Allah, serta berdiri di barisan mereka untuk memerangi para penganut kebenaran dan kelurusan.
Al Qurthubi berkata dalam tafsir firman-Nya ta’ala “Dan barangsiapa orang di antara kalian tawalli kepada mereka, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka”:
(شر ط وجوابه أي : لأنه قد خالف الله تعالى ورسوله كما خالفوا ، ووجبت معاداتهم ، ووجبت له النار كما وجبت لهم ، فصار منهم ، أي من أصحابهم )
(Adalah syarat dan jawabnya, yaitu: dikarenakan dia itu telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya sebagaimana mereka telah menyelisihi, dan wajiblah memusuhi mereka, dan pastilah neraka bagi dia sebagaimana ia pasti bagi mereka, sehingga dia tergolong bagian mereka, yaitu bagian dari teman-teman mereka).[12]
Asy Syaukani berkata:
( قوله تعالى: ﴿  وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ﴾ أي فإنه من جملتهم وفي عدادهم وهو وعيد شديد ، فإن المعصية الموجبة للكفر هي التي بلغت إلى غاية ليس وراءها غاية ..) إلى أن قال في قوله تعالى ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴾ (وهذا الشروع في بيان أحكام المرتدين بعد بيان أن موالاة الكافرين من المسلم كفر ، وذلك نوع من أنواع الردة )
(Firman Allah ta’ala “Dan barangsiapa orang di antara kalian tawalli kepada mereka, maka sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka”, yaitu bahwa ia itu termasuk golongan mereka dan dalam barisan mereka dan ia adalah ancaman yang keras, karena maksiat yang mengharuskan kekafiran ia adalah yang sampai kepada puncak yang tidak ada lagi sesudahnya…) sampai berkata dalam tafsir firman Allah ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al Maidah: 54)
(Dan ini adalah permulaan dalam menjelaskan bahwa loyalitas orang muslim kepada orang-orang kafir adalah kekafiran, dan itu adalah satu macam dari macam-macam kemurtaddan)[13]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
( ولما نهى عن موالاة الكفار وبين أن من تولاهم من المخاطبين فإنه منهم، بيَّن أن من تولاهم وارتد عن دين الإسلام لا يضر الإسلام شيئا )
(Tatkala Allah melarang dari berwala kepada orang-orang kafir dan menjelaskan bahwa orang yang bertawalli kepada mereka dari kalangan orang-orang mukmin, maka sesungguhnya dia itu adalah bagian dari mereka, maka Dia menjelaskan bahwa orang yang tawalli kepada mereka dan murtad dari agama Islam, maka dia itu tidak memadlaratkan Islam sedikitpun).[14]
Abu Bakar Ibnu ‘Arabiy berkata dalam tafsirnya terhada firman Allah ta’ala “Dan barangsiapa orang di antara kalian tawalli kepada mereka, maka sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka”:
( إن الآية تفيد نفي اتخاذ الأولياء من الكفار جميعا )
(Sesungguhnya ayat ini memberikan faidah peniadaan sikap menjadikan auliya (para pemimpin) dari orang-orang kafir seluruhnya)[15]
Larangan loyalitas itu tidak khusus terhadap Yahudi dan Nashara, karena kata “Yahudi dan Nashara” itu adalah laqab (nama sebutan), sedangkan mafhum laqab itu adalah bukan hujjah menurut jumhur, jadi larangan itu mencakup semua orang-oarng kafir, sebagaimana hal itu ditunjukan oleh Al Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman:
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨)
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)
Dan berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الإيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٢٣)
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (At Taubah: 23)
Oleh karena itu orang murtad masuk di dalamnya karena ia itu orang kafir, dan perbuatannya sebagai orang murtad tidaklah menghalangi dari penyematan nama kafir terhadapnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢١٧)
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah, dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 217)
Dan berfirman Subhanahu Wa Ta’ala:
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٨٦)
“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 86)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
( وكفر الردة أغلظ بالإجماع من الكفر الأصلي )
(Kufur riddah itu adalah lebih dahsyat berdasarkan ijma daripada kafir asli)[16]
Dan telah melewati kita pada pembicaraan tentang mumtani’in (orang-orang yang melindungi diri dengan kekuatan) bahwa orang-orang semacam mereka itu walaupun kekafiran mereka tersebut kadang tersamar, akan tetapi pengkafiran mereka itu tidak tergantung kepada keterpenuhan semua syarat dan kelenyapan semua mawani’.
********

PENUTUP

.

“Al Wala Dan Al Bara Adalah Aqidah”

(Al Wala dan Al Bara adalah gambaran yang bersifat tindakan bagi aplikasi riil untuk aqidah ini. Ia adalah makna yang besar pada jiwa orang muslim sesuai dengan kadar besar dan keagungan aqidah ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦)
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256)
Dan Allah menginginkan kemuliaan bagi orang muslim bahkan bagi manusia di atas bumi ini:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا (٧٠)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Isra: 70)
Di disaat loyalitas orang muslim itu kepada diennya dan barisan kaum mu’minin, maka dengan sikap ini dia telah menghargai takrim (pemuliaan) ini dengan sebenar-benarnya penghargaan dan dia telah beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ibadah dikarenakan ia itu telah berlepas diri dan memusuhi ubudiyyat (penghambaan) yang menginginkan penundukan dia kepada kekuasaannya selain Allah. Adapun saat ia terpuruk dan malah mengibadati selain Allah baik dengan ritual-ritual atau undang-undang atau ketaatan dan ketundukan, maka sesunguhnya dia dengan sikap ini terjatuh dari kedudukan dan kemuliaan itu ke dalam perbudakan hawa nafsu yang beraneka ragam, berbagai pikiran dan aliran yang merobek-robek kehidupannya dan mempersempit akhiratnya sehingga ia hidup dalam keadaan sengsara walaupun dia mengklaim bahwa ia bahagia. Itu dikarenakan tolak ukur kebahagiaan dan kesengsaraan di dalam pandangan Islam adalah muncul dari peribadatan kepada Allah saja, pemberlakuan hukum-Nya dan ketundukan kepada-Nya, atau kebalikan hal itu adalah peribadatan kepada thaghut, hawa nafsu dan syahwat, sedangkan itu adalah tingkatan-tingkatan jurang kesengsaraan yang hidup di dalamnya setiap orang yang berpaling dari tuntutan Allah dan dien-Nya. Sedangkan loyalitas kepada orang-orang kafir -selain ia itu kemurtaddan dan pembangkangan terhadap Allah- adalah sumber kebimbangan, kesengsaraan dan penderitaan dalam kehidupan pelakunya, karena dia itu tidak kepada orang-orang muslim dan tidak pula kepada oang-orang kafir.
Pada zaman ini, yang mana berbagai macam pemahaman bercampur, berbagai pemikiran berbenturan dan al haq tersamar dengan al bathil bahkan al haq tersingkirkan dan panji kebathilan ditinggikan, di mana orang muslim berdiri? Di mana loyalitas dia? Dan kepada siapa diberikan? Sedangkan ia melihat kekafiran yang nyata dikumandangkan dan diberlakukan dalam kehidupan manusia kemudian ia meletakan untuk hal itu pamplet kecil bahwa hal itu tidak bertentangan dengan Islam.
Contoh itu adalah orang yang menganut paham sosialis atau demokrasi atau sekuler atau nasionalisme atau komunisme, kemudian dikatakan bahwa ini tidak bertentangan dengan Islam karena Islam adalah hubungan antara si hamba dengan Rabbnya. Kepada siapa loyalitas orang muslim sedangkan ia melihat syari’at Allah disingkirkan dari bumi lagi diperangi, kemudian diimpor undang-undang buatan manusia supaya ia menjadi pedoman manusia, dalam kehidupan mereka dan jalan bagi aktivitas mereka, kemudian dikatakan sesungguhnya hal ini tidak bertentangan dengan Islam karena hukum Islam itu -baik dikatakan dengan lisan ucapan ataupun ucapan keadaan- sudah tidak lagi sejalan dengan lajunya peradaban dan kemajuan?
Kepada siapa loyalitas orang muslim, sedangkan ia melihat orang-orang munafik mengaku sebagai orang Islam, padahal mereka itu pada hakikatnya adalah lebih berbahaya terhadap dien ini daripada musuh-musuhnya yang terang-terangan.
Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat banyak…. sedangkan jawaban terhadapnya tersembunyi pada haklikat berikut ini: sesungguhnya orang muslim itu tidak mungkin loyalitasnya kepada Allah, dien-Nya dan kaum mukminin, kecuali bila dia memahami hakikat tauhid “Laa ilaaha illallaah Muhammadar Rasulullah,” merealisasikannya, memahami apa yang ditunjukannya dan maknanya, mengetahui konsekwensi-konsekwensi dan apa yang menjadi keharusannya, kemudian dia mengetahui kejahiliyyahan, syirik, kekafiran, kemurtaddan dan kemunafikan agar ia tidak menjadi mangsa yang dijerumuskan dalam keburukan ini, karena tidak akan mengenal Islam orang yang tidak mengenal jahiliyyah. Kemudian pengamalannya terhadap hakikat al wala dan al bara dalam pemahaman Islam yang benar yaitu bahwa loyalitas, kecintaan dan pembelaan itu bagi kaum mu’minin bagi bangsa mana saja, dengan bahasa apa saja mereka berbicara dan dimana saja mereka tinggal, karena ia tidak beriman terhadap apa yang diimani ajaran-ajaran jahiliyyah berupa keterikatan dengan darah, ras dan tanah.
Di mana ia itu ada bersama saudara-saudaranya yang beriman dengan hatinya, lisannya, hartanya dan darahnya. Dan ia menderita karena penderitaan mereka dan bahagia dengan kebahagiaan mereka, serta kebencian dan sikap bara-nya adalah karena seluruh musuh-musuh Allah, baik mereka itu orang-orang kafir asli, orang-orang murtad ataupun orang-orang munafik, dan sikapnya terhadap mereka adalah: jihad dengan jiwa, harta, pena, lisan dan segala yang dimiliki berupa kemampuan dan sesuai dengan kadar kesungguhan dan kemampuannya.
Sesungguhnya ini adalah hakikat yang bila telah difahami dan diamalkan oleh orang-orang muslim, maka ia bisa menentukan sikapnya, sehingga ia mengenal orang yang diberikan loyalitas dan orang yang dimusuhi, dan apa yang diinginkan Islam darinya dan apa yang dimakarkan terhadap Islam oleh musuh-musuhnya.
Dengan ini ia menjadi muslim yang aktif yang kuat dengan kekuatan Allah lagi tidak lemah dan bersedih karena Allah bersamanya, sedangkan Dia-lah yang berfirman:
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٣٩)
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)
Dan barangsiapa Allah bersamanya, maka tidak akan membahayakan dia andai semua manusia bersepakat untuk menimpakan bahaya kepadanya, dimana semua manusia tidak bisa menimpakkan hal itu kecuali bila Allah menghendaki hal itu menipanya, karena manusia itu lebih lemah dari bisa menimpakan hal sepele pun kepadanya tanpa qudrah dan iradah Allah).[17]
Dan sampai di sini selesailah apa yang ingin saya kumpulkan, dan sengaja saya akhiri dengan al wala dan al bara karena tidak ada jalan untuk mengokohkan aqidahnya kecuali dengan merealisasikan permasalahan al kufru wal iman dan mengamalkan konsekwensinya. Dan selagi aqidah al wala dan al bara belum direalisasikan maka sesungguhnya peluang akan masih tetap terbuka untuk mengobarkan api fitnah dan menebarkan debu kerusakan dan Allahlah dibalik tujuan ini, dan Dialah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus….
******
Penerjemah berkata:
Diterjemahkan di Lapas Kelas I Cipinang pada bulan Rajab, dan selesai pertengahan Sya’ban 1433 H di Lapas Salemba – Jakarta


[1]  Taisirrul ‘Azizil Hamid hal. 214
[2] Silahkan rujuk Taisirrul ‘Azizil Hamid hal. 219
[3] Tathhirul I’tiqad hal. 18-19
[4] Syarhus Sudur Bi Tahrimi Rafil Qubur hal. 20
[5] Syarhus Sudur hal. 17
[6] Ad Dur An Nadlid hal. 18 dengan sedikit perubahan
[7] Ad Dur An Nadlid hal. 40
[8] Tafsir Ath Thabari: 3/228
[9] Tafsir Ath Thabari: 3/227
[10] Al Muhalla: 13/35 Tahqiq Hasan Zidan
[11] Kitabul Iman hal. 14 dan silahkan rujuk Al Wala Wal Bara’ hal. 232-234
[12] Tafsir Al Qurthubi: 6/217
[13] Fathul Qadir: 2/50-51
[14] Al Fatawa: 18/300
[15] Ahkamul Qur’an: 2/630
[16] Al Fatawa: 28/478
[17] Al Wala Wal Bara hal. 248-251

 
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.